Sabtu, 20 Januari 2024

Sabtuku dengan merajut

Hari ini, aku mengawali hariku dengan rutinitas biasa, berbincang dulu dengan si pujaan hati (Allah SWT). Aku memohon agar hari ini berjalan dengan baik dan tentu saja dilimpahi rahmat serta keberkahan oleh Allah SWT. Setelah bermanja mesra dengan Sang Khalik, kemudian aku melanjutkan aktifitas kewajiban sehari - hariku seperti biasa, aku memasak, mencuci piring, beberes rumah, dan menyiapkan anak sulungku yang harus berangkat ke sekolah, karena meskipun hari sabtu sekolah anakku tidak libur. Dia masih memiliki aktifitas ekstrakurikuler di sekolahnya. Setelah aku beres dengan urusan domestik dan persiapan anak sekolah, karena hari ini adalah hari sabtu, maka sudah waktunya juga bagiku untuk food preparation mingguan, yang mana artinya setelah selesai melakukan pekerjaan rumah dan memasak, aku harus pergi ke pasar untuk stok belanjaan sayuran dan lauk pauk selama seminggu. Semua dilakukan dengan sat-set sat-set, karena jam 09.00 WIB aku harus mengikuti jadwal kelas zoom pelatihan online. Waktu mendaftar aku oke – oke saja, tapi entah kenapa ketika sudah hampir waktunya masuk zoom perasaanku jadi sungguh gak karuan, karena ini adalah hari pertama bagiku mengikuti kelas kursus merajut, yang mana aku ini adalah pemula alias masih 0 (nol). Jangankan teknik merajut, nama alat - alatnya saja aku belum tahu, sungguh lucu ketika menengok kebelakang alasanku untuk ikut kelas merajut ini, hanya bermodal nekat dan karena aku sedang sangat rindu almarhumah ibu. Aku ingin bisa melakukan sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh ibuku dahulu. Almarhumah ibu adalah orang yang sangat pandai dalam hal menjahit, merajut, menyulam dan lain – lain, sedangkan aku adalah kebalikannya, “0” alias blas. Dulu setiap ibu meminta aku untuk belajar, banyak alasan yang ku jabarkan, sehingga selalu diakhiri ibu yang mengalah. Aku hanya pernah menyulam dan menjahit tapi tidak dengan merajut, dan pagi ini aku ikut kelas merajut. Bismillahirrohmanirohim.. Semoga aku bisa melakukannya dengan baik dan lancar. Aku tak berani berekspektasi terlalu tinggi karena lagi – lagi aku adalah “0”, aku masih pemula yang masih baru kenal merajut. Kelas merajut hari ini aku belajar membuat Crochet Tumbler Bag. Aku memilih benang berwarna biru muda dan merah hati. Bukan tanpa alasan aku memilih warna itu, aku memilih warna merah dan biru karena anak sulungku menyukai kedua warna tersebut, kalau adiknya biasanya masih dengan tema “ikut – ikutan si kakak”. Ketika mengawali belajar merajut, aku sangat kesulitan, karena jari - jariku yang pemula ini masih sangat kaku saat memegang jarum hakpen dan menyatukannya dengan si benang milk cotton. Berulang kali aku mencobanya, berulang kali juga aku gagal. Tapi aku tak ingin menyerah, aku masih ingin mencobanya lagi dan lagi. Berkali – kali aku merutuki diriku sendiri, dalam hati aku bicara “Dulu ngeyel sih, gak mau belajar dari dulu sama ibu.. kalo dulu mau mencoba setidaknya gak 0 banget gini kan, Pina!” Kira – kira begitulah isi hatiku selama mengikuti kelas merajut, menyesal sudah tiada guna. Berulang kali aku tertinggal langkah – langkah yang diberikan oleh si pengajar. Akhirnya, ketika jam sudah menunjukkan jam 11 dan itu tandanya anak sulungku pulang sekolah, wes lah aku menyerah dan akhirnya aku memilih menyimak lebih dahulu rangkuman materinya, baru kemudian akan mengulang kembali nanti disaat mood-ku kembali bersemangat. Meski aku tidak yakin akan melakukannya, tapi aku berharap kerinduanku pada almarhumah ibu bisa membuatku kembali bersemangat belajar merajut. Semoga saja…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar