Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2024

Kandungan isi "Hujan Bulan Juni"

22.47 0 Comments

https://www.gramedia.com/blog/content/images/2021/06/sastrawan-sapardi-djoko-damono-karya-abadi-1.jpg


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus, sajak.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, puisi merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki dua jenis makna, yaitu makna tersurat dan tersirat. Dengan adanya kedua makna tersebut dapat membuat pembaca lebih memahami perasaan dan pikiran sang penyair melalui karya puisi yang mereka ciptakan.

Pertama kali saya mengenal puisi adalah ketika masih berada di bangku sekolah. Tiap bait yang tertulis dalam puisi Hujan Bulan Juni membuat saya jatuh cinta. Setiap bait tertulis dengan  sederhana namun terdengar indah dan seperti memiliki ruh didalamnya. Setiap kali membaca puisi ini maka setiap kali itu saya akan selalu larut kedalam tiap bait sajaknya.

 

Hujan Bulan Juni (1989)

 

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu.

 

Siapa yang tak kenal dengan puisi Hujan Bulan Juni, puisi terkenal dan paling ikonik di Indonesia ini adalah sebuah puisi karya dari seorang sastrawan besar Indonesia, dialah Sapardi Djoko Damono. Beliau adalah seorang sastrawan yang juga guru besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Penulis puisi Hujan Bulan Juni ini lahir di Solo, 20 Maret 1940. Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariyah yang merupakan abdi dalem Keraton Surakarta. Sapardi menjalani masa kecilnya di saat perang kemerdekaan Indonesia. Sebagai anak yang tumbuh dalam situasi seperti itu, pemandangan pesawat yang menjatuhkan bom merupakan hal yang biasa bagi Sapardi kecil. Sastrawan seperti Sapardi ini telah mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Sebagian besar dari pengalaman itu dijadikan sebagai inspirasi dalam setiap karyanya. Selama hidupnya, Sapardi telah banyak membuat karya, seperti Duka-Mu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Ayat-ayat Api, Mata Jendela, dan masih banyak lagi. Bahkan, Sapardi juga telah banyak menerima penghargaan hasil dari tulisan tangannya sendiri. Mengutip dari detikNews, Beliau wafat dalam usia 80 tahun pada Ahad, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB, di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. Kepergian sang penyair legendaris ini meninggalkan duka yang mendalam tak hanya bagi keluarga, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setiap karya pada puisi Sapardi memiliki ciri khas tersendiri. Ia menggunakan diksi yang sederhana dan tidak mendayu-dayu, tetapi makna yang disampaikannya sangat kuat dan memiliki makna yang sangat mendalam.

Puisi “Hujan Bulan Juni” ini menciptakan sebuah hubungan emosional antara penulis dan pembaca. Sapardi mengekspresikan perasaan pribadinya dengan begitu jujur dan sederhana, sehingga pembaca dapat mengaitkannya dengan pengalaman pribadi mereka sendiri. mengandung makna mendalam tentang cinta, kehilangan, dan keindahan alam. Dengan kata-katanya yang sederhana namun kuat, puisi ini mampu menyentuh hati pembaca.

Puisi hujan bulan juni ini tersusun dari tiga bait kata. Menurut saya, Sapardi mengekspresikan dua rasa sekaligus dalam puisi ini, yaitu kehilangan dan ketabahan (kerinduan). Bahkan bagi penikmat puisi banyak pula yang memaknai puisi ini sebagai bentuk penggambaran atas ketabahan diri pada sebuah rasa yang tak mampu diungkapkan melalui untaian kata. Dan adapula yang mengibaratkan dengan ketabahan seseorang dalam menunggu jodoh atau menunggu kekasih.

Puisi hujan bulan juni ini seperti sedang mengisahkan tentang kondisi keadaan di tahun 1989 dimana saat itu bertepatan dengan musim kemarau. Maka tentu saja hujan pada saat itu adalah hal yang sangat dinantikan bagi setiap orang, ibarat sebuah air yang berada di tengah gurun pasir. Bagi Sapardi, hujan di bulan Juni bukan hanya berkah dari penguasa alam semesta. Ketika banyak pohon yang mendambakan hujan, tanah yang merindukan hujan sampai ke akarnya dan akhirnya hujan turun di bulan Juni. Hujan bukan hanya air yang jatuh ke bumi. Tetesan air hujan membawa kebahagiaan bagi Sapardi, dan seluruh makhluk hidup yang telah mendambakannya. Air hujan yang turun membasahi daun dan menghasilkan irama gemercik hujan yang khas, membuat penulis seperti ingin memberikan jiwa pada hujan yang turun saat itu. “tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya, kepada pohon berbunga itu”. Pada bait puisi tersebut penulis juga seperti sedang menunjukkan suatu tema yakni ketika ia menyembunyikan perasaan rindunya, perasaan cinta yang ditahan dan sengaja tidak diucapkan hingga sampai pada akhirnya membiarkan untuk tidak terucapkan namun tetap ada dan diserap oleh akar pohon yang berbunga itu.

Rasa yang digambarkan pada puisi hujan bulan juni adalah tentang kehadiran seseorang terhadap sikap seseorang yang disukai. Yang mana terkadang kehadiran orang tersebut dapat membuat hati menjadi senang dan tenang. Namun terkadang juga bisa membuat perasaan seseorang menjadi tidak menentu. Puisi ini mengandung perasaan sedih akan ketulusan cinta, kesabaran dan kesederhanaan yang mandalam mewarnai puisi ini. Hal itu tampak dan tergambarkan dengan jelas dari makna kata-kata yang digunakan. Selain itu rasa dalam puisi ini dapat dilihat pada larik ke sepuluh dan sebelas “dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu”. Penulis merangkai kata-kata tidak sekedar menjadi rangkaian bait - bait yang indah, tetapi juga memberinya ruh. Secara sepintas dari puisi tersebut kita sebagai pembaca diajak menikmati bagaimana rintik hujan di pohon berbunga, rintik hujan yang jatuh ke jalanan lalu menjadi aliran air yang kemudian meresap ke tanah dan diserap oleh akar pohon. Puisi ini juga menggambarkan sebuah penantian kepada seseorang yang telah pergi namun dengan kekuatan doa, sabar dan ikhlas. Jiwa tabah, bijak dan arif adalah sosok ini yang setia menunggu, mencintai dalam diam. Dalam sebuah ketidakpastian semua dirahasiakan bentuk cinta dan rindunya serta menghilangkan semua keraguan dalam diri. Ketulusan perasaan yang dimiliki (penantian) yang dikembangkan akhirnya berbuah manis, semesta kemudian mempersatukan dan dia akhirnya mendapatkan seseorang yang selalu dinantikannya tersebut. pemilihan kata dari setiap bait yang digunakan penulis seperti kata tabah, bijak dan arif adalah kata yang mencirikan nada dalam puisi ini sehingga pengarang dalam puisinya menuangkan perasaannya hingga akhirnya menghapus jejak-jejak kakinya. Dalam penulisan puisi tersebut bahwa penulis mengalami keraguan hingga akhirnya memilih diam dan mencintai dalam diam. Merahasiakan dan mengikhlaskan rindu itu kepada Tuhan dan alam.

            Amanat yang disampaikan dalam puisi Hujan Bulan Juni yaitu kebesaran hati untuk menahan dan menyembunyikan rasa serta kearifan untuk tidak memaksakan kehendaknya. Dalam puisi ini juga mengingatkan kepada semua manusia untuk memiliki sifat diantaranya ketabahan, kearifan, bijaksana dalam keadaan berat sekalipun. Kita dapat mencintai seseorang dengan penuh kasih sayang dan ketulusan tanpa harus memilikinya, karena cinta tidak dapat dipaksakan namun dapat dirasakan. Bukan sebuah kesalahan jika mencintai seseorang namun tidak diungkapkan. Tetapi, jangan sampai rasa cinta itu berubah menjadi rasa sedih karena terlambat mengungkapkannya.

 

Sumber :

Djoko Pradopo, R. (2014). Pengkaji puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

https://www.kompas.com/skola/read/2022/04/29/210000669/makna-puisi-hujan-bulan-juni-karya-sapardi-djoko-damono

https://www.indonesiana.id/read/154309/memaknai-puisi-hujan-bulan-juni-karya-sapardi-djoko-damono

Sabtu, 18 Mei 2024

Palestinaku, Palestina kita

08.04 0 Comments


Aku disini memiliki segalanya.

Pakaian, makanan, bahkan kasih saying dari seluruh keluarga.

Aku disini, beribadah dengan kenyamanan dan ketenangan.

Aku disini, tidur dalam kehangatan dari dinginnya udara malam

Aku disini, menikmati segarnya oksigen dan hangatnya matahari.

Aku disini, mendengar indahnya nyanyian burung di pagi dan senja hari.

 

Terlalu malu harusnya kita untuk lalai beribadah

Terlalu malu harusnya kita untuk masih mengeluh

Terlalu malu harusnya kita untuk bersedih dengan secuil ujian Tuhan

Terlalu malu harusnya kita untuk mudah menyerah apalagi berputus asa

 

Karena semua yang aku nikmati dan terjadi disini

Berbanding terbalik dengan yang terjadi pada saudara – saudariku nan jauh disana

Di Palestina Al-Quds tanah suci, tanah para Nabi

Palestina Al-Quds bumi para kekasih Tuhan

Keserakahan dan rasa dendam mengotori bumimu

Kebiadaban zionis laknat itu meracuni tanah sucimu

 

Dibawah langit birumu banyak bertebangan para burung besi

Mereka terbang tinggi, angkuh menembus awan

Melepaskan benda pemusnah masal kearah pemukiman

Menghancurkan gedung - gedung pencakar langit dalam sekejab

Rentetan peluru merenggut segalanya dengan sangat cepat

Terdengar luka kehilangan, jerit tangis putus asa anak - anak

Menghancurkan jutaan pasang mimpi dan harapan

Perang ini melukai, perang ini menyakiti, perang ini mematikan

 

Sejarah kelam peperangan palestina 

Perang yang tak kunjung usai

Perlawanan perjuangan para syuhada

Dengan semangat gagah berani 

Meski tubuh bersimbah darah 

Namun semangat perjuangan akan terus menyala

Gugur satu tumbuh seribu

Begitulah gambaran kematian para syuhada

Disana tempat terlahir nya para calon pejuang syuhada

 

Dalam kesadisan genosida zionis

Para pejuang Palestina dengan teguh memeluk erat Bayt al-Maqdis

Tak perduli lagi atas harta bahkan nyawa

Sebab mereka yakin, janji Tuhan adalah kepastian yang manis

Mereka adalah hamba Tuhan yang sebenenarnya

Taqwa dan iman mereka kuat tak tergantikan oleh apapun juga

 

Dunia melihat keteguhan keimanan mereka

Tak sedikitpun terlihat dari wajah mereka tentang sesal

Tak sedikitpun terlihat dari wajah mereka ketakukan

Semakin kuat zionis menyerang, Semakin kuat keimanan dan taqwa mereka pada Tuhan

Mereka adalah simbol keimanan tertinggi di seluruh dunia

Keimanan dan ketaqwaan mereka adalah kunci syurga yang Tuhan janjikan

 

Sudah bukan waktunya untuk hanya menjadi penonton

Mari kita satukan solidaritas untuk Paletina merdeka

Krisis medis dan kelaparan semakin kritis

Masih pantaskah kita sebagai makhluk Tuhan hanya berdiam diri menjadi penonton

Doa dan usaha harus wajib kita terus langitkan

 

Zionis itu semakin menggila

Mereka bukan manusia, mereka lebih dari manusia gila

Mereka tak punya hati dan akal pikiran

Mereka para penjajah yang menghalalkan segala cara

Mereka ingin membumihanguskan Palestina Al-quds

 

Bayi, anak – anak, wanita sampai orang tua

Semua menjadi korban tak ada 1 pun yang dilewatkan

Mereka bukan hanya ingin merampas tanah Palestina Al-quds

Semua manusia di Palestina adalah sasaran para zionis

 

Lantas apakah kita masih akan terus saja akan diam menjadi penonton?

Mungkin sebagian dari kita masih berpikir

Memang untuk pergi berperang adalah suatu hal yang sangat sulit

Tapi setidaknya ada hal lain yang bisa untuk kita lakukan untuk mereka

Berdoa untuk mereka adalah kunci utama

Memboikot produk mereka bisa menjadi usaha kita selanjutnya

Dengan berhenti menggunakan produk mereka

Artinya kita bisa bersama - sama melumpuhkan zionis

Kita melumpuhkan mereka melalui ekonominya

Pasti tak mudah, memang takkan mudah

Pasti sulit mencari produk pengganti yang sempurna

Tapi pasti bisa jika seluruh umat di dunia bersatu bersama

Tapi pasti ada produk pengganti, meski bukanlah yang sempurna

Bersatu bersama untuk sebuah kebaikan

Bersatu untuk perjuangan solidaritas kemanusiaan

Bukankah tak ada yang tidak mungkin, bila Tuhan sudah berkehendak

 

Karena Genosida Palestina sudah terjadi sejak lama

Genosida Palestina adalah bukti kekejaman dari suatu pemerintahan zionis

Genosida Palestina adalah bukti sejarah kelam peradaban manusia

Genosida Palestina adalah kejahatan yang bisa termaafkan

 

Teruntuk saudara – saudariku di Palestina

Para Manusia pilihan Tuhan yang perkasa

Percayalah, kami disini selalu mendoakanmu

Percayalah, kami disini selalu membelamu

Dengan segala cara dan upaya

Maafkan jika masih belum begitu kerasa

Namun percayalah, tak sedikitpun kami menjauh, melupakan apalagi meninggalkanmu

Bagi kami, kalian adalalah nadi kami.