Kamis, 06 Juni 2024

# narasi # Puisi

Kandungan isi "Hujan Bulan Juni"

https://www.gramedia.com/blog/content/images/2021/06/sastrawan-sapardi-djoko-damono-karya-abadi-1.jpg


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Atau gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus, sajak.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, puisi merupakan salah satu bentuk sastra yang memiliki dua jenis makna, yaitu makna tersurat dan tersirat. Dengan adanya kedua makna tersebut dapat membuat pembaca lebih memahami perasaan dan pikiran sang penyair melalui karya puisi yang mereka ciptakan.

Pertama kali saya mengenal puisi adalah ketika masih berada di bangku sekolah. Tiap bait yang tertulis dalam puisi Hujan Bulan Juni membuat saya jatuh cinta. Setiap bait tertulis dengan  sederhana namun terdengar indah dan seperti memiliki ruh didalamnya. Setiap kali membaca puisi ini maka setiap kali itu saya akan selalu larut kedalam tiap bait sajaknya.

 

Hujan Bulan Juni (1989)

 

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu.

 

Siapa yang tak kenal dengan puisi Hujan Bulan Juni, puisi terkenal dan paling ikonik di Indonesia ini adalah sebuah puisi karya dari seorang sastrawan besar Indonesia, dialah Sapardi Djoko Damono. Beliau adalah seorang sastrawan yang juga guru besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Penulis puisi Hujan Bulan Juni ini lahir di Solo, 20 Maret 1940. Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariyah yang merupakan abdi dalem Keraton Surakarta. Sapardi menjalani masa kecilnya di saat perang kemerdekaan Indonesia. Sebagai anak yang tumbuh dalam situasi seperti itu, pemandangan pesawat yang menjatuhkan bom merupakan hal yang biasa bagi Sapardi kecil. Sastrawan seperti Sapardi ini telah mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Sebagian besar dari pengalaman itu dijadikan sebagai inspirasi dalam setiap karyanya. Selama hidupnya, Sapardi telah banyak membuat karya, seperti Duka-Mu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Ayat-ayat Api, Mata Jendela, dan masih banyak lagi. Bahkan, Sapardi juga telah banyak menerima penghargaan hasil dari tulisan tangannya sendiri. Mengutip dari detikNews, Beliau wafat dalam usia 80 tahun pada Ahad, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB, di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. Kepergian sang penyair legendaris ini meninggalkan duka yang mendalam tak hanya bagi keluarga, namun juga bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setiap karya pada puisi Sapardi memiliki ciri khas tersendiri. Ia menggunakan diksi yang sederhana dan tidak mendayu-dayu, tetapi makna yang disampaikannya sangat kuat dan memiliki makna yang sangat mendalam.

Puisi “Hujan Bulan Juni” ini menciptakan sebuah hubungan emosional antara penulis dan pembaca. Sapardi mengekspresikan perasaan pribadinya dengan begitu jujur dan sederhana, sehingga pembaca dapat mengaitkannya dengan pengalaman pribadi mereka sendiri. mengandung makna mendalam tentang cinta, kehilangan, dan keindahan alam. Dengan kata-katanya yang sederhana namun kuat, puisi ini mampu menyentuh hati pembaca.

Puisi hujan bulan juni ini tersusun dari tiga bait kata. Menurut saya, Sapardi mengekspresikan dua rasa sekaligus dalam puisi ini, yaitu kehilangan dan ketabahan (kerinduan). Bahkan bagi penikmat puisi banyak pula yang memaknai puisi ini sebagai bentuk penggambaran atas ketabahan diri pada sebuah rasa yang tak mampu diungkapkan melalui untaian kata. Dan adapula yang mengibaratkan dengan ketabahan seseorang dalam menunggu jodoh atau menunggu kekasih.

Puisi hujan bulan juni ini seperti sedang mengisahkan tentang kondisi keadaan di tahun 1989 dimana saat itu bertepatan dengan musim kemarau. Maka tentu saja hujan pada saat itu adalah hal yang sangat dinantikan bagi setiap orang, ibarat sebuah air yang berada di tengah gurun pasir. Bagi Sapardi, hujan di bulan Juni bukan hanya berkah dari penguasa alam semesta. Ketika banyak pohon yang mendambakan hujan, tanah yang merindukan hujan sampai ke akarnya dan akhirnya hujan turun di bulan Juni. Hujan bukan hanya air yang jatuh ke bumi. Tetesan air hujan membawa kebahagiaan bagi Sapardi, dan seluruh makhluk hidup yang telah mendambakannya. Air hujan yang turun membasahi daun dan menghasilkan irama gemercik hujan yang khas, membuat penulis seperti ingin memberikan jiwa pada hujan yang turun saat itu. “tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya, kepada pohon berbunga itu”. Pada bait puisi tersebut penulis juga seperti sedang menunjukkan suatu tema yakni ketika ia menyembunyikan perasaan rindunya, perasaan cinta yang ditahan dan sengaja tidak diucapkan hingga sampai pada akhirnya membiarkan untuk tidak terucapkan namun tetap ada dan diserap oleh akar pohon yang berbunga itu.

Rasa yang digambarkan pada puisi hujan bulan juni adalah tentang kehadiran seseorang terhadap sikap seseorang yang disukai. Yang mana terkadang kehadiran orang tersebut dapat membuat hati menjadi senang dan tenang. Namun terkadang juga bisa membuat perasaan seseorang menjadi tidak menentu. Puisi ini mengandung perasaan sedih akan ketulusan cinta, kesabaran dan kesederhanaan yang mandalam mewarnai puisi ini. Hal itu tampak dan tergambarkan dengan jelas dari makna kata-kata yang digunakan. Selain itu rasa dalam puisi ini dapat dilihat pada larik ke sepuluh dan sebelas “dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu”. Penulis merangkai kata-kata tidak sekedar menjadi rangkaian bait - bait yang indah, tetapi juga memberinya ruh. Secara sepintas dari puisi tersebut kita sebagai pembaca diajak menikmati bagaimana rintik hujan di pohon berbunga, rintik hujan yang jatuh ke jalanan lalu menjadi aliran air yang kemudian meresap ke tanah dan diserap oleh akar pohon. Puisi ini juga menggambarkan sebuah penantian kepada seseorang yang telah pergi namun dengan kekuatan doa, sabar dan ikhlas. Jiwa tabah, bijak dan arif adalah sosok ini yang setia menunggu, mencintai dalam diam. Dalam sebuah ketidakpastian semua dirahasiakan bentuk cinta dan rindunya serta menghilangkan semua keraguan dalam diri. Ketulusan perasaan yang dimiliki (penantian) yang dikembangkan akhirnya berbuah manis, semesta kemudian mempersatukan dan dia akhirnya mendapatkan seseorang yang selalu dinantikannya tersebut. pemilihan kata dari setiap bait yang digunakan penulis seperti kata tabah, bijak dan arif adalah kata yang mencirikan nada dalam puisi ini sehingga pengarang dalam puisinya menuangkan perasaannya hingga akhirnya menghapus jejak-jejak kakinya. Dalam penulisan puisi tersebut bahwa penulis mengalami keraguan hingga akhirnya memilih diam dan mencintai dalam diam. Merahasiakan dan mengikhlaskan rindu itu kepada Tuhan dan alam.

            Amanat yang disampaikan dalam puisi Hujan Bulan Juni yaitu kebesaran hati untuk menahan dan menyembunyikan rasa serta kearifan untuk tidak memaksakan kehendaknya. Dalam puisi ini juga mengingatkan kepada semua manusia untuk memiliki sifat diantaranya ketabahan, kearifan, bijaksana dalam keadaan berat sekalipun. Kita dapat mencintai seseorang dengan penuh kasih sayang dan ketulusan tanpa harus memilikinya, karena cinta tidak dapat dipaksakan namun dapat dirasakan. Bukan sebuah kesalahan jika mencintai seseorang namun tidak diungkapkan. Tetapi, jangan sampai rasa cinta itu berubah menjadi rasa sedih karena terlambat mengungkapkannya.

 

Sumber :

Djoko Pradopo, R. (2014). Pengkaji puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

https://www.kompas.com/skola/read/2022/04/29/210000669/makna-puisi-hujan-bulan-juni-karya-sapardi-djoko-damono

https://www.indonesiana.id/read/154309/memaknai-puisi-hujan-bulan-juni-karya-sapardi-djoko-damono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar