Langit lazuardi berwarna jingga,
Sungguh jelita pesona cakrawala,
Pada alam Tuhan memberikan,
Segala hal yang manusia butuhkan,
Berdiri aku di sisi jalan,
Merasakan cahaya pagi penuh dengan kehangatan,
Terbentang luas hamparan sawah nan hijau,
Burung - burung terbang berkicau merdu,
Diufuk timur bulan memudar pergi,
Beralih tugas dengan sang mentari,
Dengan embun pagi yang membasahi,
Bersama kabut tipis yang melindungi,
Terdengar untaian sholawat pagi,
Memuji kebesaran sang Illahi Robbi,
Udara sejuk terasa mengisi rongga dada,
Sungguh indah nya Negeriku tercinta,
Ciptaan dari Sang Yang Maha Kuasa,
Di sebuah desa yang indah nan permai,
Terlihat para warga berkumpul bersama,
Beramai - ramai kerja bakti bergotong royong,
Melaksanakan tradisi rutin mingguan "GUGUR GUNUNG",
Tahukah kamu apa itu "GUGUR GUNUNG" ?
Gugur gunung adalah gotong royong,
Bersama - sama melakukan pekerjaan besar,
Bekerja bakti membenahi fasilitas umum di lingkungan sekitar,
Gugur gunung warisan budaya leluhur,
Menjadikan masyarakat damai dan makmur,
Mengajarkan kebersamaan, keikhlasan dan kekeluargaan,
Mengajarkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan,
Itulah kearifan lokal desaku,
tak boleh dibiarkan terkikis zaman kemudian berlalu,
Gugur gunung sarat nilai moral budaya leluhur,
Hendaknya kita lestarikan adat istiadat sepanjang umur,
Di beberapa titik sekitar desa,
Terdapat banyak sekumpulan warga disana,
Para lelaki desa bersiap untuk mulai bekerja,
Dengan membawa peralatan lengkap cangkul dan sejenisnya,
Sedangkan para ibunya tak kalah berkontribusi,
Didapur desa mereka memulai bekerja bakti,
Membuat dan menyiapkan minuman hangat beserta cemilan,
Memasak makanan besar yang nantinya akan disajikan,
Para bapak ada yang mencangkul dan menebang ranting,
Ada pula yang mencabut rumput, sampai angkut - angkut,
Mereka melakukan tugasnya masing - masing,
Tak kenal mengeluh dan selalu penuh semangat,
Bersama - sama mereka melakukan gugur gunung,
Semua dilakukan tanpa ada syarat,
Tua dan muda semua bergabung,
Demi kenyamanan lingkungan masyarakat,
Ketika matahari telah berada diatas kepala,
Mereka rehat sejenak menghentikan pekerjaannya,
Beramai-ramai duduk bersama,
Minum kopi dan teh, menyantap menu yang tlah tersedia,
Menikmati setiap sajian dengan lahap penuh nikmat,
Sejenak berkumpul bersama serasa seperti sebuah keluarga,
Setiap makanan yang disuap dilimpahi doa dan berkat,
Dan rasa kebersamaan masyarakat desa sungguh nyata terasa,
Di lahan kosong dengan pagar bambu,
Mereka tanami bersama berbagai macam tanaman,
Dengan harapan dapat dipanen bersama sewaktu - waktu,
Ada Melon, Cabe, tomat, ubi, singkong, jagung sampai sayuran,
Ada pula Jahe, kencur, kunyit, laos, sereh, dan berbagai tanaman temu,
Yang nantinya digunakan sebagai bumbu dapur dan tanaman obat - obatan,
Matahari bersinar terik hingga keringat membanjiri,
Tibalah waktunya untuk beristirahat dan menyudahi,
Semilir angin berhembus lembut di siang hari,
Sapa tawa canda masih selalu riang mengiringi,
Dibawah rindangnya pepohonan yang menari - nari,
Kebersamaan selalu terlihat menyentuh sanubari,
Bahagia masyarakat desa sungguhlah sederhana,
Badan sehat, perut kenyang, ibadah tenang “bahagia”,
Bahagia mereka bukan semata tentang tahta dan harta,
Bahagia mereka dengan mensyukuri segala sesuatu yang telah dipunya,
Betapa indah rasanya jika rasa syukur selalu bertahta di dada,
Sekecil apapun nikmat akan terasa luar biasa,
Syukur - atas segala kesempurnaan jiwa dan raga yang dipunya,
Beribu nikmat kebesaran Tuhan Yang Maha Esa,
Itulah potret desaku tercinta,
Sebagai cerminan budaya luhur bangsa,
Untuk diwariskan ke generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar